Jangan Sia-siakan Waktumu!!!

Oleh : Buya H.M. Alfis Chaniago

Mari kita gunakan segala potensi yang ada pada diri kita, tidak hanya menggunakan kecerdasan intelektual atau logika semata, tetapi mari kita aktifkan potensi emosional dan spiritual kita secara maksimal, sehingga kita dapat melihat dengan utuh segala keuntungan yang bisa diraih, baik keuntungan untuk ketentraman hidup di dunia maupun keuntungan untuk di akhirat nanti.

Sesungguhnya kesimpulan dari segala persoalan dalam hidup ini terletak pada dua hal, yaitu keikhlasan hati dalam menerima segala apa yang diberi oleh Allah kepada kita dan mesungguhan hati dalam mencari rejeki untuk akhirat.

Dalam kajian tasawuf, kita harus membaca dengan kacamata spiritual, bukan dengan intelektual. Karena kalau tidak demikian akan terjadi kesalahan dalam pemahaman. Seakan-akan orang tasawuf mengutuk kehidupan dunia dan mengajak kita meninggalakannya. Betulkah seperti itu? Jawabannya tentu tidak.

Pandangan yang seakan-akan mencela dunia, bukan berarti menyuruh kita meninggalkan kegiatan dunia. Tetapi berilah batas pada dunia ini, jangan sampai berlebihan. Banyak orang yang memberi porsi tanpa batas kepada dunia, hanya mencari uang dan kenikmatan nafsu, sehingga waktu 24 jam sehari terasa tidak cukup, selalu inigin lagi, lagilagi gila, gila, akhirnya gila.

Gila hrta, gila tahta, gila wanita. Memasung jiwa di lorong yang sempit dalam rutinits yang kaku tidak diperintahkan oleh agama, yang demikian akan melemahkan dan melelahkan jiwa. Sesungguhnya segala sesuatu itu ada waktunya, bagilah waktumu dengan adil.Ada waktu untuk bekerja, waktu untuk membaca, waktu untuk menulis, waktu untuk tafakur, waktu untuk berfikir, waktu untuk berdzikir, waktu untuk meneliti, waktu untuk instropeksi, waktu untuk diskusi, waktu untuk rekreasi, waktu untuk ibadah, waktu untuk Allah, waktu untuk manusia, waktu untuk tetangga, waktu untuk keluarga, dll.

Sesungguhnya kekayaan yang sebenarnya itu adalah kekayaan di dalam jiwa. Kalau jiwa kita miskin, sekaya apapun harta kita, masih terasa belum cukup. Ibarat orang yang kehausan, walau sudah satu samudera yang dia minum, tetapi masih haus juga. Yang bisa menghentikan ita adalah sifat qana’ah. Qana’ah adalah perbendaharaan harta yang tidak terbatas.

Orang yang mencari dunia tanpa batas, seakan-akan mengarungi lautan luas yang tak bertepi, ia tidak akan pernah mencapai pantai, selalu tidak puas akan apa yang telah ia dapat. Tetapi, merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepada kita, itulah hakikat yang kita cari. Kemarin kita mencari rejeki dapat sekian, hari ini pendapatan agak menurun, anggaplah itu hal yang biasa.

Banyak atau sedikit yang diberikan Allah, kalau kita terima dengan jiwa yang qana’ah pasti akan cukup. Beban hidup kita akan berkurang kalau kita menggunakan tolak ukur qana’ah. Ada yang mengartika qana’ah adalah merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah kepada kita, pengertian ini belum sempurna.

Ia masih berpotensi mangajak kita untuk berfikir negatif : “sudahlah kita tidak usah bekerja terlalu rajin, karena Allah telah mentakdirkan kita berurat miskin, bagaimanapun usaha kita akan tetap miskin. Tapi kalau urat kita urat kaya, uang yang akan mencari kita”. Ini adalah pengertian yang keliru.

Arti Qana’ah yang lebih baik adalah selalu berbaik sangka kepada Allah, terhadap apa yang diberikanNya kepada kita. Kalau rejeki kita sedikit, lalu kita menggerutu sambil membandingkan dengan tetangga yang kafir tetapi banyak rejekinya, itu namanya berburuk sangka terhadap Allah.

Jangan sekali-kali kita menuduh Allah tidak adil. Kenapa orang yang kerjanya cuma tanda tangan tapi penghasilannya satu hari sama dengan penghasilan kita satu tahun. Itu arinya kita tidak qana’ah.

Orang yang qana’ah tidak pernah berburuk sangka terhadap Allah dan tidak pernah mebanding-bandingkan keringat yang ia keluarkan dengan keringat yang dikeluarkan orang lain. Dia menganggap keringat yang ia kucurkan adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah, tidak ada hubungannya dengan jumlah uang yang dia dapatkan.

Seorang hamba Allah yang sejati semua perbuatannya diniatkan untuk Allah, yang penting berbuat sebaik-baiknya. Sesungguhnya malam dan siang itu bekerja untuk kamu, maka bekerjalah kamu di dalam kedua waktu itu.

Source : Mimbar Jumat Dewan Mubaligh Indonesia Edisi 298/Th.2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: